Persaaan Membuncah Dihari Pertama Sekolah

Senyum indah tersungging di wajahnya.
Menambah kesan cantiknya.
Ini yang namanya anak Ayah.
Semoga kamu menjadi anak Sholehah.

Dia berlari-lari di tengah rumah. Riang nian kelakukannya hari ini. Senin, 15 Juli 2019 adalah hari pertamanya sekolah. Seragam sekolah berwarna hijau menutupi tubuhnya yang mungil dan lucu. Dilengkapi dengan jas almamater ala anak kuliah, dasi kupu-kupu ala pelayan di restoran, dan topi bulat ala anak pramuka.  

Hari ini Adinda resmi menjadi siswi TK B di sebuah sekolah di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Tak tertahan dan tak dapat dikatakan bahagia hati Adinda hari itu. Amunisi di dalam tas nya pun sudah penuh dan komplit. Penuh dengan makanan bekal. Misting warna kuningnya diisi sama roti tawar dilapisi selai strawberry. Botol minum bergambar little pony sudah terisi penuh dengan air minum. 

Ibunya Adinda menyiapkan semua itu, Anisa namanya. Ahhh,,, terima kasih banyak istriku. Terima kasih banyak ibu dari anak-anakku. Cantik, solehah, dan penuh pengertian. Sosok yang memang tidak sempurna, tapi paling sempurna dimataku. Terima kasih sudah mengabdikan hidupmu untuk mengurus suami yang super menyebalkan ini. Terima kasih sudah mengabdikan hidupmu untuk mengurus anak-anakku. Terima kasih sudah mengorbankan hidupmu untuk membunuh egomu agar keluarga kita bisa tenang dan damai, membuat rumah menjadi surga. 

Kebahagiaanku tidak hanya sampai situ, si bungsu juga ikut sibuk. Kayanya dia yang mau sekolah hari ini. Alma, si bungsu perempuan berumur 2 tahun itu ikut sibuk mencari asesoris untuk dirinya mulai dari baju, kerudung, sepatu, sampai topi. Ngga mau kalah sama kakaknya. Alhasil kami semua ikut sibuk memenuhi keinginan si kecil. Lucu, bawel, mungil…

Alhamdulillah Ya Allah, Kau telah karuniakan kepada hamba keluarga yang sangat luar biasa. Luar biasa mengerti hamba, luar biasa memahami hamba, luar biasa memberikan kebahagiaan buat hamba, dan luar biasa memberi ketenangan pada hamba. Kalau boleh aku meminta lagi Ya Allah, aku mau satu lagi anak laki-laki… sebagai pelengkap keluarga kami. 

Satu hal yang aku sesali hari ini, aku tidak bisa menemani hari pertama Adinda sekolah. Padahal ini adalah momen sekali seumur hidup. Maafkan Ayah Adinda, bukan maksud Ayah tidak menemanimu. Maafkan sekali lagi. Maafkan Ayah Anisa, tidak bisa membantu saat engkau kerepotan mengurus semua itu, bukan maksud Ayah. Maafkan Ayah Alma, tidak bisa menggendongmu saat Ibu sibuk dan kerepotan mengurus Adinda, bukan maksud Ayah. Semoga Ayah masih ada umur untuk menebus semua itu.

Sebenarnya air mata Ayah sudah ingin membuncah saat menulis cerita ini, tapi Ayah malu. Soalnya Ayah lagi dikantor, nanti temen-temen Ayah pada aneh kalau ngeliat Ayah nangis…hihihihi. 

Jakarta, 15 Juli 2019

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.