[BOOK REVIEWS] 2 – Dua

Judul Buku : 2 (Dua)

Pengarang : Donny Dhirgantoro

Penerbit : Grasindo

Tebal : 418 halaman

Cetakan : Keenam, Januari 2013

“Jangan pernah meremehkan kekuatan seseorang, karena Tuhan sedikitpun tidak pernah.”

“tetapi tidak ada kerja keras tanpa impian, dan tidak ada impian tanpa kerja keras.”

Novel ini bercerita tentang seorang anak yang baru lahir dengan ukuran yang tidak biasa. Sangat besar jika dibandingkan dengan bayi lainnya. Kedua orang tuanya sangat bahagia akan lahirnya anak kedua mereka. Tetapi ada sesuatu yang pahit yang harus mereka hadapi kedepannya.

Anak besar ini bernama Gusni. Ia adalah anak kedua dari pasangan suami istri yang paling berbahagia di dunia. Ayahnya bekerja sebagai pembuat kok badminton. Anak pertama mereka bernama Gita. Keduanya anak perempuan.

Beberapa tahun terlewati. Saat ini Gusni sudah duduk di SD. Seperti kebiasaan pada umumnya anak SD, anak perempuan benci anak laki-laki dan begitu juga sebaliknya. Tidak terkecuali Gusni dan kedua teman perempuannya yang memiliki ukuran badan tidak jauh. Mereka malas bergaul dengan laki-laki. Hingga pada suatu hari, Gusni bertemu dengan seorang anak laki-laki yang juga memiliki ukuran badan yang subur. Hobi mereka sama, makan onde-onde. Perkenalan antara kedua makhluk subur ini pun terjadi. Waktu terus berlalu dan mereka menjadi teman akrab. Nama laki-laki tersebut adalah Harry.

Keluarga ini sangat menyukai badminton karena mereka hidup dari kok yang dibuat sang kepala keluarga. Gita, kakak Gusni juga dididik untuk menjadi atlet badminton. Atlet badminton putri yang sangat berprestasi.

Suatu hari, Harry mengajak Gusni ke sebuah taman. Mereka membicarakan mengenai cita-cita mereka disini. Harry mengatakan bahwa dia memiliki cita-cita untuk memiliki restoran bakmi. Sedangkan Gusni, ia ingin juga menjadi atlet badminton seperti kakaknya karena ingin membahagiakan orang tuanya. Orang tuanya terlihat bahagia saat menyaksikan Gita bertanding.

Orang tua Harry memiliki restoran bakmi. Merekapun penggemar badminton. Suatu hari Gusni diajak makan di restoran orang tuanya hari. Karena Gusni merasakan nikmatnya bakmi buatan papa Harry, Gusni mengajak keluarganya makan di restoran bakmi tersebut. Kedua keluarga itu menjadi sangat dekat.

Suatu hari di tahun 1998, pecahlah kerusuhan akibat krisis moneter. Gusni dan Harry terjebak diantara kerusuhan. Papa Harry lah yang menyelamatkan mereka. Akibat kejadian tersebut, keluarga Gusni menjadi semakin dekat dengan keluarga Harry. Hingga pada suatu hari, restoran bakmi keluarga Harry menjadi korban kerusuhan tersebut. Restorannya hangus terbakar dan tidak ada yang tersisa. Habislah sudah semua. Tidak ada lagi harapan. Akhirnya keluarga Harry memutuskan untuk pindah entah kemana.

Waktu berlalu lagi. Sekarang Gusni sudah duduk di bangku SMA. Suatu hari ada reuni SD. Di reuni tersebut Gusni kembali bertemu dengan Harry. Mereka pun melanjutkan pertemanan akrab dari SD, sampai berlanjut menjadi sepasang kekasih.

Sekarang waktunya tiba…

Gusni sudah berumur 18 tahun. Ini saatnya kedua orang tuanya memberitahukan sesuatu yang Gusni tidak tahu mengenai dirinya. Dimulailah pembicaraan serius diruang keluarga. Disana sudah berkumpul semua anggota keluarga.

Papa Gusni akhirnya membocorkan rahasia yang selama ini mereka simpan. Gusni ternyata mengidap penyakit turunan. Penyakit turunan itu menyebabkan Gusni tidak dapat membakar lemak dengan normal. Itulah sebabnya ukuran badannya terus membengkak. Sejak lahir berat badannya tidak pernah turun. Dan berdasarkan pengalaman dari leluhurnya, anggota keluarga yang mengidap penyakit tersebut tidak memiliki umur panjang. Keadaan ini baru diceritakan di tengah-tengah novel. Penuh teka-teki. Bikin penasaran.

Awalnya Gusni tidak bisa menerima keadaan ini. Tapi akhirnya Gusni bisa menerimanya. Tapi tentu saja tidak menyerah begitu saja. Ia ingin bertahan hidup. Ia ingin melawan penyakitnya. Harry pun sudah tau mengenai hal ini dan ia memutuskan untuk tidak meninggalkan Gusni meskipun medis memprediksi Gusni tidak akan memiliki umur yang panjang.

Gusni memutuskan untuk melawan penyakitnya. Ia berlari setiap pagi dari rumahnya ke GOR untuk berlatih badminton. Awalnya memang tidak kuat. Tekanan darah Gusni sangat tinggi. Pusing, sesak, dan akhirnya pingsan. Tapi Gusni tidak menyerah, ia terus berlatih untuk tetap bertahan hidup.

Gusni terus berlatih keras hingga akhirnya dia diputuskan untuk ikut dalam turnamen badminton bergengsi di dunia. Konflik dan emosi terjadi ditengah-tengah proses ini. Terus bekerja keras sampai akhirnya tim putri Indonesia bisa memenangkan medali emas berkat Gusni. Dan ia tetap melanjutkan rutinitasnya untuk lari setiap pagi untuk melawan penyakitnya.

Novel yang sangat bagus.

Penulis sangat pandai memainkan emosi pembacanya lewat novel ini.

Lucu, sedih, marah, semua emosi bercampur aduk di dalam novel ini. Novel yang sangat saya rekomendasikan.

Banyak hikmah juga yang bisa kita ambil. Kesetiakawanan, nasionalisme, kekeluargaan, kasih sayang, cinta, perjuangan pantang menyerah. Novel yang sangat saya rekomendasikan.

Novel yang sangat saya rekomendasikan.

Nilai novel ini menurut saya 8,5/10.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.