Catatan Ayah – Semua Tentang Menyatukan Hati

Jeburrrr……..

Seorang anak perempuan dengan semangat melompat kedalam kolam renang di daerah Serpong. Gadis cilik berbaju renang biru tersebut seakan tidak khawatir dengan seberapa dalamnya kolam tersebut. Sambil berteriak seolah ia ingin menunjukkan kepada dunia naju renang yang baru dibelikan ayahnya semalam.

“Ayah, ayo kita main perosotan”. Sang anak mengajak ayahnya yang sedang memasang kacamata renang.

Sang ayah tidak punya pilihan selain mengikuti keinginan putri kecilnya. Rasa sayang yang teramat besar membuat ayahnya tidak berdaya menolak semua keinginan anaknya.

Dengan sabar sang ayah mengantarnya menaiki tangga perosotan dan tanpa malu dia pun ikut main perosotan yang ukurannya super kecil. Jika kalian pernah menonton film Mr. Bean dengan adegan kolam renang, kira-kira seperti itulah gambaran perosotan yang dinaiki mereka bersama. Seolah dunia milik mereka berdua, mereka asik bermain perosotan hingga kurang lebih selama 45 menit.

Bosan main perosotan, sang anak mengajak ayahnya bermain menggunakan pelampung. Lagi-lagi tanpa bisa melawan, sang ayah pun mengambilkan pelampung berbentuk mobil polisi berwarna biru dari tempat duduk. Di tempat duduk tersebut telah menunggu seorang wanita yang bisa dibilang masih muda, berumur 27 tahun.

“Ayah, makan dulu. Tadi belum sarapan sebelum berenang”.

“Iya nanti aja bu, kasihan Alisa sendirian”, sahut sang ayah.

Tanpa menggubris perkataan istrinya, ayah berumur 28 tahun tersebut beranjak menuju kolam renang membawakan pelampung untuk anaknya. Padahal satu porsi sate ayam lengkap dengan lontong sudah tersedia diatas meja.

Setelah bermain sekitar 30 menit, matahari terasa sangat menyengat membakar kulit. Kulit jari sudah mulai mengeriput dan memutih. Sudah saatnya untuk beranjak dari kolam dan mandi untuk selanjutnya pulang. Namun tidak demikian dengan sang anak. Bermain air di kolam renang bisa menghapus rasa panas akibat sengatan sinar matahari dan rasa dingin akibat air yang memang dingin. Sang anak tidak mau beranjak.

Sang ibu sudah mulai berteriak dari tepi kolam menginstruksikan anak dan suaminya untuk keluar dari kolam renang.

“Ayo kita pulang, udah panas nih ntar kulitnya jadi item!”.

Namun sang anak tidak menggubrisnya. Ia malah makin erat memegang ayahnya dan menariknya ke tengah kolam. Sang ayah pun lagi-lagi tidak berdaya. Sang ibu berteriak semakin kencang.

“Ayo pulang, ntar ditinggal!”.

Lagi-lagi sang anak berteriak. Sang ayah, lagi-lagi tidak berdaya.

Lalu ayah tersebut memeluk anaknya tercinta dan membisikkan sesuatu kepadanya dengan nada dan bahasa yang lembut.

“Nak sayang, kita udahan dulu yu? Kamu laper kan? Tuh udah ada sate dimeja. Kita makan sate dulu yu? Enak lho. Ntar kalau udah makan kita main lagi?”.

Tanpa diduga, gadis imut berambut ikal itupun memeluk ayahnya semakin erat dan mengatakan sesuatu kepada ayahnya.

“Hayu yah kita makan sate dulu yu? Udah itu kita main lagi ya?”

Mereka bertiga menikmati seporsi sate ayam yang sudah disajikan diatas meja. Setelah selesai makan, sang anak rupanya tidak berniat melanjutkan renangnya. Nampaknya dia sudah kelelahan dan kekenyangan. Ia pun mengajak kedua orang tuanya pulang.

Rupanya anak jika diajarkan dengan “keras”, ia akan tumbuh menjadi anak yang “keras”. Begitu pula sebaliknya.

Semua ini tentang menyatukan hati. Masuk perlahan, ambil hatinya, maka kita akan mudah berkomunikasi dengannya. Dan semuanya senang, tidak ada yang tersakiti.

Dimobil, Alisa pun tertidur dengan pulas. Sesampainya dirumah ia baru terbangun. Namun baru saja mobil masuk garasi,,,

“Ayaaaahhhhhh……, pelampung Alisa ketinggalannnnnnn….!!!!’. Ayo kita balik lagi”

Hadeuh…

Tangerang, 27 Maret 2017

Leave a Comment