Catatan Ayah – Kalianlah Surgaku

Sebuah sepeda kecil berwarna putih meluncur dengan cepat didepan salah satu rumah komplek perumahan di bilangan Tangerang. Tawa riang seorang anak diatas sepeda tersebut terdengan nyaring. Bahkan saking kencangnya tawa tersebut bisa mengalahkan kencangnya TOA masjid disebelah rumah.

Namun dibalik kencangnya suara tawa tersebut, ada suara yang lebih kencang lagi. Suara tersebut merupakan suara seorang ibu yang kepalanya muncul dari balik jendela rumah.

“Sini nak makan dulu!”.

Namun sang anak seolah tidak mendengar suara tersebut meskipun suara tersebut sudah sangat kencang hingga bisa mengalahkan suara ultrasonik yang dikeluarkan alat pengusir tikus dan serangga. Anak itu terus asik bermain dengan sepeda kesayangannya.

“Nak makan dulu nak nanti terusin lagi main sepedanya!”.

Lagi-lagi tidak didengar. Anak itu masih terus bermain.

Ibu tersebut sedikit kesal. Dia beranjak dari tempat duduk nyamannya dan keluar menghampiri si anak dengan membawa sebuah piring berisi seonggok nasi dengan sayur sop dan tempe mendoan. Ibu berbaju biru yang memakai kerudung seadanya itu berniat untuk menyuapi si anak yang sedang asik bermain diluar rumah.

Tapi sang anak berpandangan lain. Dimata anak berbaju pink dengan gambar sponge bob di bajunya itu, ibu yang mengejarnya dengan membawa piring adalah seorang monster. Dia berpikir pasti akan disuruh makan oleh ibunya, meskipun pikirannya tersebut memang benar. Diapun lari sejadi-jadinya. Sepedanya ditinggal ditikungan komplek tidak peduli meskipun sepeda tesebut mungkin akan dibawa oleh tukang rongsokan.

Sang ibu seolah tidak mau kalah. Diapun mengejar anak tersebut keliling komplek. Sepeda anaknya yang dibeli dari hasil jerih payah suaminya bekerjapun dilewati. Mungkin sang ibu lebih tidak peduli lagi kalau sepeda tersebut dibawa oleh tukang rongsokan. Yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana beberapa sendok nasi bisa masuk kedalam perut anaknya sore itu.

Setelah berlari maraton mengitari komplek beberapa kali akhirnya sang anak menyerah ditangan ibunya. Tawa kecil keluar dari mulut gadis kecil itu saat digendong oleh ibunya masuk kedalam rumah. Menangkap seorang perempuan imut itu merupakan suatu kepuasan bagi sang ibu. Meskipun tujuan awal sang ibu mengejar anak tersebut masih belum tercapai, memasukkan sesendok nasi kedalam perutnya.

Pertarungan tidak selesai sampai disitu. Didalam rumah pertarungan masih berlanjut antara ibu dan sang anak. Ibu dengan senjata andalannya sendok dan piring siap menerjang. Namun dimata sang anak, sendok dan piring tersebut bagaikan sebuah pedang dan tameng. Suara-suara pedang dan tameng (sendok dan piring) beradu terdengar jelas ditelinga.

“Trang Trang Trang”.

“Ciattttt……!!!!!”.

Setelah beberapa menit akhirnya pertempuran itu selesai. Pertempuran dimenangkan oleh sang ibu. Sang anak mengakui kekalahannya dan duduk lemas di sofa karena kekenyangan. Tawa puas sang ibu terdengar jelas di seluruh belahan dunia.

Aku merasa sedang menonton film paling seru selama ini. Inilah film paling wah yang pernah aku tonton selama 28 tahun ini. Inilah keluargaku. Inilah rumahku. Inilah surgaku. Kalianlah surgaku.

Terima kasih. Karena berkat kalian, aku tidak perlu jauh-jauh mencari surga. Kalianlah yang membawa surga kepadaku.

Tiba-tiba suara nyaring memekakkan telingaku.

“Ayaaaaahhhhh……. Jangan ngelamun terus. Itu ambil sepeda didepan rumah Pa Tatang ntar diambil orang…!!!”.

Tangerang, 25 Maret 2017

Leave a Comment