[BOOK REVIEWS] Hujan

Judul: Hujan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia
Jumlah Halaman: 318
Cetakan: Pertama, Januari 2016

Bercerita mengenai seorang gadis bernama Lail yang tinggal disebuah kota. Kondisi kota saat itu sudah sangat modern. Diceritakan bahwa suatu hari Lail yang masih kecil sedang dalam perjalanan ke sekolah diantar oleh ibunya menggunakan kereta bawah tanah. Namun tiba-tiba bencana alam terjadi. Sebuah gempa bumi dengan skala sangat besar meluluhlantahkan bumi. Kereta bawah tanah terhenti dan semua penumpang terpaksa harus turun dari kereta dan naik ke permukaan. Semua penumpang berlomba-lomba untuk menyelamatkan diri di tengah-tengah ancaman terowongan yang sudah mulai rubuh. Saat tiba giliran lail dan ibunya naik ke permukaan, tangga darurat tiba-tiba rubuh. Untung saja seorang anak laki-laki mencengkram tas yang dibawa Lail sehingga Lail bisa diselamatkan. Namun ibunya tidak dapat diselamatkan dan terkubur di terowongan kereta bawah tanah.

Lail dan Esok tinggal di pengungsian selama beberapa tahun. Mereka sering menghabiskan waktu bersama hingga keduanya menjadi teman dekat. Saat itu hanya teman dekat karena usia mereka masih kecil untuk merasakan sesuatu yang lebih. Namun masalah muncul, abu dari gunung yang meletus membuat bumi tertutup oleh lapisan gas. Akibatnya, sinar matahari tidak dapat menyinari bumi dan bumi dilanda musim dingin berkepanjangan. Tumbuhan-tumbuhan tidak dapat tumbuh dan ini menjadi ancaman bagi manusia karena bahan makanan semakin berkurang.

Banyak negara yang berinisiatif untuk melepaskan gas kimia tertentu di lapisan ozon agar abu yang menghalangi sinar matahari dapat hilang. Namun berdasarkan pandangan ilmu pengetahuan, pelepasan gas tersebut dapat membawa dampak yang lebih buruk. Tapi setiap negara tidak memperdulikan pandangan para peneliti tersebut karena stok makanan semakin menipis. Setiap negara berlomba-lomba melepaskan gas penghilang abu dan gas yang menghalangi sinar matahari mencapai bumi.

Waktu terus berlalu dan kondisi bumi sudah mulai membaik. Sinar matahari sudah dapat menghangatkan bumi dan stok makanan sudah mulai tersedia. Saatnya penduduk meninggalkan pengungsian untuk memulai hidup baru. Namun pada tahap ini, Lail dan Esok harus berpisah. Esok diadopsi oleh walikota kota tersebut dan Lail tinggal di yayasan bersama teman barunya bernama Maryam. Meskipun terpisah, Lail dan Esok masih terus berkomunikasi dan bertemu.

Beberapa tahun berlalu dan mereka sudah waktunya menginjak bangku kuliah. Lail dan Maryam kuliah di bidang keperawatan sedangkan Esok kuliah ibu kota. Karena tempat kuliah mereka berbeda kota, Esok dan Lail semakin jarang bertemu.

Beberapa tahun berlalu dan Esok semakin jarang menghubungi Lail. Entah kenapa Lail tidak berani untuk menghubungi Esok terlebih dahulu. Esok pun semakin jarang memberi tahu Lail terkait proyek yang sedang ia kerjakan di kampus. Bahkan ibunya sendiri pun tidak mengetahuinya.

Setelah beberapa lama, muncul masalah baru. Seluruh umat manusia tidak dapat melihat awan. Hal ini terjadi karena gas kimia yang dilepaskan oleh setiap negara untuk menghilangkan abu dan gas yang menutupi sinar matahari untuk mencapai bumi. Rupanya gas kimia tersebut juga membawa dampak terhadap lingkungan. Awan tidak dapat lagi terbentuk. Akibatnya, seluruh dunia mengalami krisis air bersih.

Setelah beberapa lama, akhirnya diketahui bahwa Esok saat ini sedang tergabung dalam sebuah proyek khusus. Proyek membangun beberapa buah kapal besar yang dapat mengangkut sebagian umat manusia. Rupanya beberapa pihak sadar bahwa umur bumi sudah tidak lama lagi dan mereka berinisiatif membuat kapal besar untuk menyelamatkan umat manusia.

Sebagian besar orang tidak mengetahui proyek ini termasuk Lail. Dia mengetahui informasi ini pada beberapa hari terakhir sebelum pesawat diberangkatkan. Namun lagi-lagi, pesawat tersebut tidak dapat mengangkut seluruh umat manusia. Hanya orang terpilih saja yang dapat naik ke pesawat tersebut dan itu berdasarkan undian.

Esok mengatakan bahwa orang-orang yang terpilih untuk dapat menaiki pesawat tersebut akan dihubungi oleh pemerintah beberapa hari sebelum keberangkatan. Lail menunggu panggilan tersebut namun tidak kunjung ia terima. Setelah beberapa hari menunggu, ia mendapatkan informasi dari Esok bahwa proses pemilihan penumpang telah selesai.

Lail menyadari bahwa dirinya tidak terpilih menjadi salah satu penumpang. Disaat yang sama Lail mendapat informasi bahwa Esok mendapatkan 2 tiket sekaligus. 1 tiket ia dapatkan sebagai balas jasa karena ia terlibat dalam proyek tersebut, 1 tiket lagi ia dapatkan karena namanya terpilih dalam undian.

Tapi siapakah yang akan dipilih Esok untuk ikut bersamanya? Apakah orangtua angkatnya? Pertanyaan tersebut masih berkecamuk di pikiran Lail. Hingga detik-dtik terakhir Lail belum mendapatkan jawabannya dan pesawat akan berangkat beberapa jam lagi. Hal itu membuat Lail sangat sedih. Bukan hanya karena tidak dapat naik ke pesawat, tetapi juga karena harus berpisah bersama Esok.

Untuk melupakan kesedihan tersebut, Lail pergi ke pusat terapi. Ia memutuskan untuk melupakan kenangan mengenai Esok. Setelah ia masuk ke ruangan, tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan Maryam pun hanya bisa menunggu diluar ruangan setelah beberapa kali mencoba memaksa masuk untuk menghentikan terapi tersebut.

Tiba-tiba Esok datang. Namun pada saat Esok datang, saat yang bersamaan Lail juga keluar dari ruangan dan telah selesai dengan terapinya. Maryam dan Esok panik. Mereka takut Lail telah melupakan mereka. Tapi ternyata Lail berubah pikiran di detik-detik terakhir. Ia memutuskan untuk menyimpan semua kenangan.

Dan Esok, kenapa ia bisa datang? Kenapa ia tidak jadi pergi bersama pesawat yang telah dibuatnya?

Rupanya Esok memberikan tiket tersebut kepada ibu dan saudara angkatnya. Ia sendiri tidak ingin pergi. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Lail.

Menurut saya, buku ini merupakan buku yang cukup menarik setelah mengetahui akhir ceritanya. Namun akhir cerita hanya diceritakan sedikit sekali di akhir bab. Sedangkan cerita di tengah-tengah buku menurut saya tidak terlalu menarik. Bukunya sendiri cukup tebal sehingga pembaca sering merasa bosan di pertengahan karena cerita yang tidak cukup menarik.

Leave a Comment