[BOOK REVIEWS] Pulang

Judul Buku: Pulang
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Jumlah Halaman: 400
Cetakan: Kedua, Oktober 2015

sinopsis-novel-pulang-tere-liyeKakinya bergetar menghadapi seorang babi hutan yang ukurannya sangat besar di salah satu hutan pedalaman Sumatera. Ia harus melindungi seseorang bertubuh gempal dan bermata sipit yang biasa di panggil Tauke. Lindungi Tauke, setidaknya itulah pesan Bapaknya sebelum ia pergi bersama Tauke berburu babi hutan.

Walaupun penuh luka, lelaki yang biasa dipanggil Bujang itu berhasil pulang dan melindungi Tauke dari serangan babi hutan. Tauke memutuskan untuk membawa Bujang bersamanya ke ibu kota provinsi. Awalnya mamaknya tidak setuju, tetapi setelah dibujuk bapaknya, akhirnya Bujang diizinkan ikut bersama Tauke. Hanya satu pesan mamaknya, “Jauhkan perutmu dari alkohol dan daging babi”.

Mamak adalah putri seorang pemuka agama yang terpandang di Sumatera yang biasa dipanggil Tuanku Imam. Namun Mamak terusir dari kampungnya setelah memutuskan untuk menikah dengan Bapak, lelaki yang tidak jelas asal usulnya. Saat Tuanku Imam orang tua Mamak meninggal, kakak tertua Mamak lah yang menjadi Tuanku Imam menggantikan ayahnya. Namun sejak Mamak terbuang, Bujang tidak pernah bertemu dengan keluarga Tuanku Imam.

Rupanya Tauke adalah pemimpin salah satu penggiat shadow economy di Indonesia. Mereka biasa disebut keluarga Tong. Bisnisnya sudah mulai membesar dan dia terus merekrut orang-orang baru untuk mengekspansi bisnisnya.

Saat Bujang tiba di rumah keluarga Tong, ia bertemu dengan Basyir, seorang anak yang seumuran dengan Bujang dan baru direkrut juga oleh Tauke. Bujang dan Basyir bisa dibilang seangkatan dalam perekrutan namun mereka akan diarahkan pada dua jurusan yang berbeda.

Saat dilakukan tes intelijensi, ternyata Bujang memiliki tingkat intelijensi diatas rata-rata. Sehingga ia memiliki tugas utama untuk sekolah hingga S2 ke Amerika. Tujuannya adalah agar ia bisa mengembangkan bisnis keluarga Tong dengan otaknya. Sedangkan Basyir benar-benar dididik menjadi tukang pukul keluarga Tong. Namun jiwa tukang pukul bapaknya Bujang yang dulu merupakan salah satu tukang pukul keluarga Tong tetap mengalir didarahnya. Bujang tidak puas hanya belajar dan bergaul dengan buku. Dia juga mempelajari kurikulum tukang pukul keluarga Tong. Kopong, kepala tukang pukul yang melatihnya secara khusus. Bahkan Kopong mendatangkan guru khusus untuk melatih Bujang mulai dari pelatih menembak yang didatangkan langsung dari Filipina hingga pelatih ninja yang didatangkan langsung dari Jepang.

Singkat cerita, Bujang telah menjadi tangan kanan Tauke dan Basyir menjadi tukang pukul keluarga Tong. Keduanya memegang peranan penting dalam keluarga. Bujang spesialis membereskan masalah-masalah tingkat tinggi. Dengan tingkat pendidikannya yang tinggi dan kemampuan bertarungnya, tentu hal ini bukan menjadi hal yang sulit.

Namun keberaniannya mulai runtuh saat Bujang menerima surat dari bapaknya yang mengabarkan bahwa mamaknya sudah meninggal. Perlu beberapa hari agar dia kembali memiliki semangat sebagai tangan kanan Tauke. Ketangguhan dirinya mulai diuji lagi saat mendapat kabar dari Tauke bahwa bapaknya kini meninggal. Butuh waktu lebih lama lagi bagi Bujang untuk bangkit.

Namun, keberanian dan kekuatan Bujang sesungguhnya baru diuji saat terjadi suatu peristiwa penting, pengkhianatan. Basyir, kepala tukang pukul keluarga Tong adalah pengkhianat. Ia mengkondisikan seolah-olah keluarga Tong mendapat serangan dari luar sehingga seluruh tukang pukul menjaga wilayah-wilayah yang dikuasai keluarga Tong dan Basyir menempatkan orang-orang kepercayaannya di markas besar. Saat seluruh tukang pukul tidak berada di markas, Basyir dapat dengan mudah meringsek masuk ke dalam pertahanan benteng markas.

Bujang bersama orang-orang kepercayaan Tauke yang saat itu sedang berada di markas siap menghadapi Basyir. Namun strategi Basyir membuat posisi Bujang tidak bisa melawan. Bujang tersudut dan hampir pasti kalah. Namun disaat nyawa Bujang dan Tauke diujung tanduk, Tauke menekan tombol yang membuat pintu rahasia terbuka dan kami tiba di sebuah lorong. Lorong rahasia untuk menyelamatkan diri disaat genting seperti sekarang ini. Hingga Bujang dan Tauke tiba di halaman suatu rumah.

Bujang sudah berada di suatu ruangan saat dia tersadar. Ia mendapati Tauke tidak dapat bertahan hidup dari serangan Basyir dan mayatnya masih tergeletak di sebelah Bujang di ruangan yang sama. Rupanya rumah tersebut merupakan rumah milik Tuanku Imam. Secara diam-diam, Tauke sering menemui Tuanku Imam yang merupakan kakak tertua dari Mamak Bujang. Tauke mengusulkan untuk membangun lorong tersebut karena berjanji kepada Bapak Bujang untuk menjaga Bujang. Sedangkan Tuanku Imam setuju untuk membangun lorong tersebut karena beliau juga tidak ingin sesuatu terjadi pada keturunannya.

Dengan kematian Tauke, semangat hidup Bujang seolah hilang. Ia merasa tidak memiliki keluarga lagi setelah ditinggal Mamak, Bapak, dan Tauke. Meskipun Tuanku Imam merupakan keluarga Bujang, namun Bujang tidak merasakan itu karena Bujang baru bertemu dengan Tuanku Imam pada saat itu.

Beberapa hari berlalu Bujang tetap seperti mayat hidup. Semangat hidupnya hilang. Tidak memiliki tujuan.

Tuanku Imam memperhatikan Bujang beberapa hari kebelakang. Dia tidak bisa terus menjalani hidup seperti ini. Tuanku Imam yang merupakan guru besar suatu pesantren di Ibu Kota memberikan pencerahan kepada Bujang. Tuanku Imam memberikan semangat agar Bujang kembali merebut apa yang menjadi hak keluarga Tong karena saat ini Bujang lah satu-satunya pewaris tunggal keluarga Tong. Setelah seluruh bisnis berada di tangan Bujang, ia dapat mengubah arah pergerakan seluruh bisnis khususnya dari bisnis yang illegal menjadi bisnis legal.

Kata-kata Tuanku Imam berhasil memberikan motivasi untuk Bujang. Bujang mengumpulkan teman-temannya, guru yang dulu pernah mengajarinya menembak, dan cucu guru ninja yang dulu pernah mengajarinya, mereka juga ninja yang sangat hebat. Dengan strategi yang matang Bujang beserta kawanannya berhasil merebut kembali bisnis keluarga Tong.

Setelah berhasil menguasai bisnis keluarga Tong, ia menjadi piminan keluarga itu. Bujang lalu pulang, untuk menemui Mamak dan Bapaknya yang sudah berada di dalam tanah. Setelah beberapa puluh tahun, akhirnya Bujang pulang, menemui Mamak dan Bapak.

***

Cerita yang sangat menarik. Pembaca tidak akan menyangka jalan dan alur ceritanya. Saya kira novel ini bercerita mengenai cinta-cintaan seperti novel kebanyakan. Namun yang ini beda. Mengenai perang dan pertarungan, namun sarat akan makna. Banyak konflik yang dimunculkan dalam buku ini dan ini membuat jalan cerita novel semakin menarik. Penulis juga dengan piawai menggambarkan setiap adegan sehingga pembaca dapat masuk dan merasakan menjadi bagian dari konflik-konflik yang ada.

Sangat direkomendasikan.

Leave a Comment