[CERPEN] FinTech, Go-Jek, dan Lulusan SMP

Seorang pria berjaket hijau tampak ragu masuk kedalam kantor sebuah bank dengan warna dominan merah. Pria itu masih ragu meski sudah mendapat nomor antrian yang diberikan oleh personil pengamanan bertubuh tegap dan berambut plontos. Namun keraguan tersebut mendadak sirna ketika dia melihat beberapa orang berjaket hijau bergumul di sudut ruangan.

***

Seorang pria menggunakan handphone Xiaomi nya untuk menelepon seseorang.

“Selamat siang pak, saya dari Go-Jek. Bapak posisi sedang ada dimana?”

“Saya disamping Hotel Pullman mas dideket kantor polisi.”

“Baik pak mohon ditunggu sebentar saya langsung meluncur kesana.”

Lelaki berkulit sawo matang tersebut melesat dari tempat berkumpulnya bersama teman-temannya di daerah plaza indonesia ke samping Hotel Pullman. Setelah menjemput seseorang, pemuda tersebut melesat melewati jalan Sutan Syahrir ke Taman Menteng.

Fikri, pria asli Tangerang itu sudah satu tahun lebih menjadi driver Go-Jek dan mengadu nasib di Jakarta. Go-Jek saat ini menjadi satu-satunya andalan dia untuk menghidupi orang tua dan adik-adiknya. Dia mulai menggandeng Mio Finonya keluar rumah mulai pukul 5 pagi hingga kembali mengistirahatkan Mionya rata-rata pukul 9 malam.

Lelaki yang sebelumnya bekerja sebagai pramuniaga sebuah toko perlengkapan haji tersebut mengetahui Go-Jek dari tetangganya. Setahun lalu, tetangganya yang sudah lebih dulu bergabung dengan Go-Jek mengalami peningkatan taraf kehidupan yang cukup signifikan. Hal itu tidak disia-siakan olehnya dan diapun langsung bergabung dengan Go-Jek pada tahun 2015. Benar saja, saat itu penghasilannya dalam sebulan hampir sama dengan penghasilan dua bulan saat bekerja menjadi pramuniaga. Hingga saat ini, penghasilan yang diterimanya masih cukup tinggi yaitu sekitar Rp150.000,- per hari.

Pemuda berumur 25 tahun ini mengatakan bahwa perkembangan Go-Jek sangat cepat. Waktu pertama bergabung, layanan yang disediakan Go-Jek hanya jasa mengantarkan orang menggunakan sepeda motor. Namun sekarang, mulai bermunculan layanan-layanan baru yang disediakan oleh Go-Jek mulai dari Go-Car, Go-Food, Go-Clean, Go-Massage, hingga yang terbaru Go-Auto. Bahkan tidak hanya layanan semacam itu yang ditawarkan oleh Go-Jek, tapi juga sistem pembayarannya berupa Go-Pay.

Go-Pay merupakan sistem pembayaran yang dikembangkan oleh Go-Jek. Pada layanan Go-Pay ini, calon penumpang dapat mendeposit sejumlah uang pada dompet virtual yang dimiliki oleh Go-Jek. Mudahnya, penumpang menyimpan sejumlah uang pada dompet virtual yang dipegang oleh Go-Jek. Pada saat seorang penumpang akan membayar layanan yang disediakan oleh Go-Jek, penumpang dapat menggunakan uang pada dompet virtual tersebut. Sehingga penumpang tidak perlu mengeluarkan uang tunai untuk membayar layanan Go-Jek yang baru digunakannya.

Go-Pay ini tidak hanya dimiliki oleh penumpang. Driver Go-Jek pun memiliki dompet  virtual di Go-Jek. Anak kedua dari tiga bersaudara ini sempat memperlihatkan dompet virtual miliknya di handphone. Dompet virtual dengan jumlah uang sebesar Rp66.450,-. Saat seorang penumpang membayar layanan seorang driver Go-Jek menggunakan Go-Pay, jumlah uang pada dompet virtual penumpang akan berkurang sebesar ongkos jasa layanan yang harus dibayar. Sebaliknya, uang tersebut akan pindah ke dompet virtual driver.

Lalu bagaimana cara dia menarik uang tersebut dari dompet virtualnya?

***

Pria berjaket hijau bernama Fikri itu bergabung bersama koloninya disudut ruangan. Sesekali ia bercanda bersama rekan-rekannya. Namun tiba-tiba muncullah obrolan dari 2 rekannya yang membuatnya resah.

“Bro, kita buka rekening ini harus setor duit kan?”

“Kayanya ia Gus.”

“Berapa ya kira-kira?”

“Kalau kemaren gue buka rekening di Bank Mandiri sih diminta setor pertama Rp500.000,-.”

Deg…

“Darimana gue dapet uang sebanyak itu.”, pikirnya.

Dengan perasaan tidak karuan pria lulusan SMP tersebut menunggu hingga nomor antriannya dipanggil.

“Bonek aja, kalau diminta setoran awal gede ya ga usah jadi”, pikirnya.

Cukup lama menunggu mungkin hampir 4 jam. Antrian yang cukup panjang membuat Fikri harus menunggu 4 jam hingga nomornya dipanggil. Yang membuat antrian tersebut cukup panjang tidak lain adalah koloninya sendiri, pasukan pria berjaket hijau.

“Selamat siang pa, selamat datang di Bank CIMB Niaga. Nama saya Rina ada yang bisa dibantu?”

“Selamat siang mba, saya mau buka rekening ponsel.”

“Apakah untuk keperluan Go-Jek pa?”

“Betul.” Dia menjawab dengan suara yang lembut

“Baik pak, silakan bapak isi formulir ini dilengkapi dengan nomor handphone yang bapak gunakan. Mohon maaf pak, untuk rekening ponsel diperlukan setoran awal sebesar …”

Deg… Deg… Deg…

Jantungnya kembali meradang. Enggan untuk berdetak.

“Dua puluh ribu saja pak.”

Mendadak pagar yang menghalangi jantungnya untuk berdetak runtuh. Ia merasa lega karena setoran awal yang diperlukan untuk membuka rekening ponsel CIMB Niaga tidak sebesar yang ia takutkan.

“Selamat pak, rekening ponsel bapak sudah aktif dan sudah dapat digunakan. Ada lagi yang bisa saya bantu?”

“Tidak mba terima kasih”

“Terima kasih banyak bapak, semoga bermanfaat dan terima kasih telah membuka rekening ponsel CIMB Niaga.”

***

Deposit atau uang yang dimiliki oleh driver Go-Jek di dompet virtualnya dapat dicairkan kapan saja melalui rekening ponsel yang mereka miliki. Sebenarnya terdapat dua bank yang dapat digunakan oleh driver Go-Jek untuk mencairkan dana di dompet virtualnya, yaitu BCA dan rekening ponsel dari CIMB Niaga. Namun saat ini driver lebih didorong untuk menggunakan rekening ponsel.

Entahlah, mungkin ada kerjasama tertentu antara Go-Jek dan CIMB Niaga.

Meskipun membawa kemudahan baik bagi penumpang maupun driver, Go-Pay tidak serta merta dapat diimplementasikan secara lancar. Contohnya Fikri, pria lulusan SMP ini awalnya tidak mengerti bagaimana sistem kerja Go-Pay. Dia menyatakan bahwa pendidikannya yang hanya tamatan SMP semakin menyulitkan dia dalam memahami transaksi finansial menggunakan teknologi atau yang saat ini lebih seksi disebut FinTech. Namun mau tidak mau dia harus dapat mengerti sistem kerja Go-Pay yang merupakan salah satu wajah FinTech karena dia sendiri bekerja sehari-hari menggunakan teknologi.

Pria yang tinggal di daerah Ciledug ini menyatakan bahwa penumpang saat ini lebih senang menggunakan Go-Pay. Selain simpel, penumpang tidak perlu membawa uang receh dan driver pun tidak perlu menyediakan uang kecil untuk kembalian. Penumpangpun masih tetap dapat memberikan tips untuk driver melalui Go-Pay tersebut. Selain itu, driver merasa lebih aman dari alamat palsu layanan gofood karena sudah ada jaminan uang di Go-Pay.

“Tapi ngga tau yah, kalau bayar-bayar basisnya aplikasi gitu harus diatur juga ngga yah sama pemerintah?”. Pertanyaan tersebut spontan muncul dari mulutnya yang masih penuh dengan pisang goreng.

“Pemerintah harus cepet-cepet ngatur tuh. Jangan sampe kejadiannya sama kaya transportasi online gini sampe sekarang masih ngegantung. Nanti ribut lagi”.

Sebenarnya pengaturan sistem pembayaran ada di Bank Indonesia. FinTech yang model bisnisnya berupa sistem pembayaran ada di ranah Bank Indonesia. Namun Bank Indonesia tentu tidak dapat bekerja sendiri. Perlu koordinasi dengan otoritas lain seperti OJK dan pemerintah agar dapat membentuk iklim yang paling sesuai untuk implementasi FinTech di Indonesia. Pembentukan iklim tersebut diharapkan dapat membawa FinTech menjadi salah satu penggerak ekonomi bangsa dengan risiko yang masih dapat dikendalikan.

Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mendukung FinTech agar mempermudah kehidupan kita. Dan Bank Indonesia perlu secara proaktif mendalami industri FinTech. Sesuai dengan salah satu tema transformasi Bank Indonesia “Institutional Leadership”.

“Terima kasih Fikri atas inspirasi hari ini”

Jakarta, 22 Oktober 2016

***

Leave a Comment