[BOOK REVIEWS] Ayat-Ayat Cinta 2

Judul: Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis: Habiburahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Tebal: 690 Halaman

Buku ayat-ayat cinta 2 ini melanjutkan cerita ayat-ayat cinta yang pertama. Mengisahkan seorang pemuda Indonesia yang merantau jauh ke negeri orang. Fahri, seorang pemuda asal Jawa yang pada buku ayat-ayat cinta pertama menuntut ilmu di Kairo. Saat ini Fahri tinggal di Sktolandia dan menjadi dosen di University of Edinburgh.

Namun kehidupan Fahri di Skotlandia bukan tanpa ujian. Hingga saat itu Fahri masih mencari istrinya, Aisyah. Fahri kehilangan Aisyah beberapa tahun lalu saat Aisyah pergi ke Israel bersama temannya. Temannya ditemukan dalam keadaan mengenaskan dan tidak bernyawa. Kemungkinan Aisyah juga. Tetapi hingga saat ini jenazah Aisyah belum ditemukan dan Fahri yakin bahwa Aisyah masih hidup.

Buku ini menggambarkan kesalehan social yang dimiliki oleh Fahri. Yang dimaksud kesalehan social adalah bagaimana seorang Muslim bersikap dalam kehidupan social. Diceritakan bahwa Fahri memiliki beberapa tetangga, non Muslim tentunya. Seorang nenek Yahudi yang tinggal sendirian tepat di depan rumah Fahri. Fahri selalu memerhatikan dan mengurus nenek tersebut. Bahkan anaknya nenek tersebut yang katanya seorang Yahudi taat mengusir nenek tersebut dari rumahnya. Fahri membantu nenek tersebut untuk mendapatkan rumahnya kembali.

Namun bantuan Fahri terhadap nenek tersebut bukan tanpa halangan. Tidak jarang dia harus berhadapan dengan anak nenek tersebut yang bernama Baruch. Baruch merupakan seorang tentara Israel.

Suatu hari, Fahri bertemu dengan seoran wanita yang memiliki wajah buruk rupa. Wanita tersebut sedang mengemis di halaman masjid kampusnya. Beberapa orang mencelanya karena dinilai mencoreng nama Islam dengan meminta-minta. Lagi-lagi Fahri menunjukan kesalehan sosialnya. Fahri menawarkan wanita tersebut untuk tinggal dirumahnya. Kebetulan ada ruangan kosong di basemen rumahnya. Dia bisa tinggal disana.

Suatu hari, Fahri terkejut karena di kaca mobilnya tertulis kata-kata yang menghina Islam. Setelah diselidiki, yang menulisnya adalah anak tetangganya. Tetangganya memiliki satu orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki. Anak perempuannya lah yang menulis tulisan itu. Anak-anaknya memang membenci Islam sejak ayahnya menjadi korban bom yang katanya dilakukan oleh orang Islam. Sejak itulah mereka membenci Islam.

Dan lagi, Fahri menunjukan sikapnya sebagai seorang Muslim. Fahri tidak marah ataupun melaporkannya ke polisi. Fahri malah membantu mereka keluar dari permasalahan keluarga mereka. Fahri membantu anak perempuannya menjadi pemain biola terkenal tanpa mereka tahu. Bahkan anak laki-lakinya yang bernama Jason memilih untuk menjadi Muslim.

Dalam buku ini, Fahri diceritakan menikah dengan seorang gadis cantik bernama Hulya. Fahri menikah lagi karena sudah putus asa mencari istrinya Aisyah yang tidak kunjung menemukan titik terang. Namun setelah beberapa lama hidup dengan Hulya, keberadaan Aisyah mulai menemui titik terang.

Masih ingat gadis dengan wajah buruk rupa yang tinggal di basemen rumah Fahri? Gadis tersebut menunjukkan ciri-ciri mirip Aisyah. Mulai dari cara berjalan, cara mengaji, cara memasak, dan lainnya. Fahri mulai curiga. Tapi itu tidak mungkin.

Suatu hari, ujian kembali menimpa Fahri. Istrinya yang sangat dia cintai, Hulya, dibunuh oleh Baruch saat sedang berlibur bersama gadis buruk rupa. Di saat yang sama, Fahri juga tidak dapat menahan rasa penasarannya terhadap si gadis buruk rupa. Fahri memeriksa kamar gadis tersebut dan menemukan foto Fahri dan Aisyah. Di belakang foto tersebut tertera tulisan Aisyah yang menyatakan bahwa foto tersebut merupakan fotonya dan suaminya saat wajahnya masih cantik. Fahri terkejut menemukan bukti itu. Ternyata gadis buruk rupa yang selama ini tinggal dirumahnya adalah Aisyah. Istri yang sangat dicintainya.

Masih sedih karena kehilangan Hulya, istrinya, Fahri berinisiatif untuk mengimplan wajah Hulya ke wajah Aisyah. Alhamdulillah berhasil. Awalnya Aisyah tidak mau mengaku bahwa dia adalah Aisyah. Namun setelah Fahri meyakinkan, akhirnya Aisyah mengaku bahwa dia adalah dirinya.

Wajah buruk rupa tersebut didapatnya saat sedang berada di Israel. Pada saat itu, Aisyah dan temannya ditangkap oleh tentara Israel, salah satunya Baruch. Wanita-wanita yang ditangkap diperkosa oleh tentara Israel. Untuk mencegah hal tersebut, Aisyah sengaja merusak wajahnya sehingga tentara Israel tidak mau memerkosa dirinya dan Aisyah berhasil kabur. Sedangkan temannya tidak berhasil kabur.

Buku ini penuh dengan makna dan pesan moral. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari setiap cerita dan kejadian yang dialami oleh Fahri. Lika liku ceritanya juga menurut saya sangat menarik untuk diikuti dan tidak membosankan.

Tapi sayang penulis seolah ingin segera menyelesaikan buku ini di beberapa bab terakhir. Di sekitar tiga sampai empat bab terakhir, penulis benar-benar menuliskan inti cerita dan miskin lika liku. Jadi cukup kerasa juga pas di bab-bab lainnya cerita penuh dengan bumbu sedangkan pas di bab-bab terakhir bener-bener menceritakan inti cerita.

Leave a Comment