[PAPER REVIEWS] Identifying High-Potential Talent in the Workplace

Identifying High-Potential Talent in the Workplace

By: Kip Kelly

Director of Marketing & Business Development

UNC Kenan – Flagler Business School

Iseng-iseng nemu artikel yang cukup bagus. Judulnya” Identifying High-Potential Talent in the Workplace”. Artikel ini bisa jadi tambahan referensi bagi professional HR yang akan ataupun sedang mengimplementasikan program talent pool di organisasinya.

Sebelum lanjut, pegawai berpotensi tinggi tuh apa sih? Kalau menurut paper ini, pegawai berpotensi tinggi adalah pegawai yang punya potensi, kemampuan, dan aspirasi untuk mengisi posisi strategis. Secara umum, isi dari paper ini bisa digambarkan dengan bagan di bawah ini.

Nah, dalam menentukan pegawai yang punya potensi tinggi, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah “buddy approach”, ini paling simple tapi subjektif. Yang kedua “decision maker consensus approach”. Ini berarti beberapa decision maker rapat untuk nentuin siapa aja pegawai yang berpotensi tinggi. Tapi pendekatan ini bisa menimbulkan konflik antar mereka karena setiap decision maker akan memperjuangkan “jagoannya”. Pendekatan ketiga adalah “criteria based approach”. Sampai saat ini, pendekatan inilah yang katanya paling baik dan fair.

Agar identifikasi pegawai berpotensi tinggi bisa dijalankan dengan konsisten, pendekatan ketiga lah yang seharusnya diambil. Tujuannya agar identifikasi pegawai potensi tinggi bisa dijalankan dengan sistematis. Untuk mengimplementasikan systematic Hi-Po Identification bisa dilakukan dengan beberapa langkah. Langkahnya digambarkan dalam bagan di bawah ini.

Lalu apa untungnya jika kita bisa implementasikan systematic Hi-Po Identification? Ada beberapa keuntungan yaitu lebih fair, bisa berdampak pada pengurangan tingkat keluar masuk pegawai berpotensi tinggi, dan itu bisa juga menjadi competitive advantage organisasi.

Sekarang yang jadi pertanyaan lagi. Misalkan kita sebagai pemberi kerja, haruskah kita kasih tau pegawai kita yang berpotensi tinggi bahwa mereka adalah pegawai berpotensi tinggi?

Memang masih ada perdebatan mengenai pertanyaan ini. Sebagian mengatakan ya dan sebagian lagi tidak. Berdasarkan survey di paper ini, 58% pemberi kerja memberi tahu pegawai berpotensi tinggi mereka bahwa mereka adalah pegawai berpotensi tinggi. Jadi cukup banyak juga pemberi kerja yang nggak mau ngasih tau pegawai berpotensi tinggi mereka bahwa mereka adalah pegawai berpotensi tinggi. Mungkin mereka takut pegawai mereka naik egonya dan cari kerjaan lain.

Tapi berdasarkan survey lagi, hanya 14% dari pegawai yang tahu bahwa mereka adalah pegawai potensi tinggi yang mau nyari kerjaan lain. Tapi buat pegawai yang nggak tahu bahwa mereka adalah pegawai berpotensi tinggi, 1/3 nya mau nyari kerjaan lain.

Jadi kalau menurut survey sih mendingan pemberi kerja membuka informasi mengenai pegawai berpotensi tinggi mereka. Tapi kan survey nya itu bukan di Indonesia. Buat Indonesia kayanya budaya “rahasia” masih sangat kental. Itu kembali pada kebutuhan organisasi masing-masing.

Satu lagi, buat organisasi yang mau buka informasi tentang pegawai berpotensi tinggi mereka, sebaiknya langsung diikuti oleh program dan aksi yang jelas. Hal ini agar tidak timbul ketidakpuasan dari pegawai berpotensi tinggi tersebut. Kan batin juga tau bahwa kita adalah pegawai berpotensi tinggi tapi nggak ada program atau reward khusus.

Leave a Comment