[CERPEN] Catatan Harian Mahasiswa dan Smart City

Smart City 1“Hah!”, Didit tersentak dan terbangun dari tidurnya.
“Ah, ternyata hanya mimpi”, dengan tenang Didit pun tertidur kembali.
***
Kriiiinnggggg….. Kriiiinngggggg…, jam weker dikamarnya menjerit dengan kesal karena penghuni kamar tak kunjung bangun. Jika jam weker tersebut punya hati mungkin dia akan berpikiran bahwa majikannya merupakan orang yang gagal karena tetap tertidur meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Jam weker tersebut terus menjerit tanpa lelah selama 30 menit. Selama 30 menit tidak ada respon. Baru pada menit ke 31 lah sang majikan menunjukkan sedikit pergerakan.
“Hah, udah jam setengah 8. Hari ini gue ada kuliah jam 8”. Didit langsung melompat dari tempat tidurnya tanpa memperhatikan barang-barang yang berantakan dikamar kosnya. Tanpa basa-basi (dan tanpa mandi), didit langsung menggeber bebek besi miliknya menuju salah satu kampus ternama di Kota Bandung.
***
“Selamat pagi semuanya”. Sang dosen menyapa dengan wajah sumringah dan penuh kelicikan.
“Hari ini saya akan adakan ujian dadakan ya. Materinya gampang ko. Kalau kalian memperhatikan kuliah saya minggu lalu pasti kalian bisa menjawab semua pertanyaan ujian”.
“Yassalam, ternyata mimpi itu bisa kebawa ke kehidupan nyata”. Didit bergumam dalam hati karena mimpi ujian yang tadi malam didapatkannya ternyata menjadi kenyataan.
Wajah didit yang muram tidak menghentikan langkah dosen untuk mendatanginya dan membagikan kertas soal. Bapak dosen malah makin mantap memberikan soal ujian kepada Didit. Sepertinya dia tahu wajah mahasiswa yang belum siap ujian.
“Gimana Didit? Kamu sudah siap ujian kan? Kamu memperhatikan kuliah saya minggu lalu kan?”
“Ah, pintar sekali bapak ini basa-basi. Atau malah dia sudah tahu kalau gue ga siap buat ujian?” gumam Didit.
Ujian mata kuliah Innovation Technology ini memang terkadang membuat bingung. Seperti ujian hari ini. Didit membolak-balik kertas yang diberikan oleh dosennya. Kertas tersebut kosong. Tidak ada goresan satupun. Persis seperti bayi yang baru lahir ke dunia. Putih, bersih, dan tanpa dosa. Maksudnya apa???
“Jangan-jangan…”
Belum habis pikiran-pikiran negatif yang ada di kepala Didit, sang dosen mulai membuka mulutnya.
“Saya sudah membagikan kertas kosong kepada kalian. Sekarang tolong kalian tuliskan apa yang kalian ketahui atau pendapat kalian mengenai smart city!. Lalu tuliskan juga peran perusahaan tempat kalian magang semester kemarin dalam mendukung smart city.”
“Kalian masih ingat kan pembahasan dan diskusi kita minggu lalu mengenai smart city?”
“Masiiiiiihhhhhhh…”. Hampir semua mahasiswa menjawab. Kenapa hampir? Karena ada satu mahasiswa yang tidak menjawab dan hanya bengong dengan keringat dingin mengembun di jidatnya.
“Sial. Semuanya pada bilang masih inget. Ngejek gue nih.”
Didit berharap waktu tidak akan pernah bergulir. Karena kalaupun bergulir Didit tidak tahu harus menulis apa. Sekarang otaknya benar-benar gelap.
***
Detik tiap detik berlalu, sudah 30 menit dan kertas Didit masih tanpa dosa.
Panik, Didit melirik kekiri.
“Parah lu sob, ko lu buka catetan?” Didit terkejut karena ada temannya di sebelah kiri yang membuka catatan.
Rupanya teman kiri Didit hanya sok jago bilang masih inget pelajaran minggu lalu. Ternyata buka catetan juga.
“Tapi boleh juga sih, nyontek dong.”
“Aduh tulisannya jelek banget lagi, ga kebaca.”
“Udah tulis aja apa yang ada, lu nyontek aja banyak protes.” Bisik teman kiri Didit sambil menyenggol sikut Didit.
***
“Smart city merupakan kota pintar, yeee… nenek gue sambil goreng gurame juga tau kalau smart city itu kota pintar.” Gumam Didit sambil mengomentari catatan teman kirinya yang super konyol.
Untung jawaban dibawahnya masih lumayan.
Tanpa membuang waktu, Didit langsung mengerahkan sensorik dan motoriknya untuk memindahkan goresan di buku catatan teman kirinya ke kertas miliknya yang masih tanpa dosa.
“Smart city adalah kota yang dapat mengintegrasikan semua data informasi dan memanfaatkan teknologi untuk memetakan segala yang ada di kota tersebut untuk mempermudah pengambilan keputusan oleh kepala daerah.”
“Data tersebut merupakan data kependudukan, aset kota, pendidikan, kesehatan, kegiatan ekonomi, dan hal-hal lainnya”.
Kegiatan menyalinpun terus dilakukan Didit dengan semangat 45.
***
Seminggu setelah ujian berlangsung, mimpi buruk bagi Didit kembali terjadi.
“Didit, teman kirinya didit, bisa kalian menemui bapak di ruang dosen sekarang?”
“Didit, ini lembar jawaban ujian kamu. Coba kamu baca dengan keras.”
“Smart city adalah kota yang dapat mengintegrasikan semua data informasi dan memanfaatkan teknologi untuk memetakan segala yang ada di kota tersebut untuk mempermudah pengambilan keputusan oleh kepala daerah.”
“Data tersebut merupakan data kependudukan, aset kota, pendidikan, kesehatan, kegiatan ekonomi, dan hal-hal lainnya”.
“Salah satu infrastruktur yang perlu dikembangkan dalam membangun smart city adalah bidang sistem pembayaran.”
“Pengawasan sistem pembayaran saat ini ada di Bank Indonesia. Bank Indonesia memiliki departemen yang memang memiliki fungsi untuk mengawasi sistem pembayaran. Itulah salah satu peran Bank Indonesia dalam membangun smart city. Selain sebagai sumber data perekonomian yang dapat digunakan oleh pengambil keputusan didaerah untuk mengembangkan daerahnya.”

“Sekarang teman kirinya Didit, coba baca jawaban ujian kamu dengan keras.”
“Smart city adalah kota yang dapat mengintegrasikan semua data informasi dan memanfaatkan teknologi untuk memetakan segala yang ada di kota tersebut untuk mempermudah pengambilan keputusan oleh kepala daerah.”
“Data tersebut merupakan data kependudukan, aset kota, pendidikan, kesehatan, kegiatan ekonomi, dan hal-hal lainnya”.
“Salah satu infrastruktur yang perlu dikembangkan dalam membangun smart city adalah bidang sistem pembayaran.”
“Pengawasan sistem pembayaran saat ini ada di Bank Indonesia. Bank Indonesia memiliki departemen yang memang memiliki fungsi untuk mengawasi sistem pembayaran. Itulah salah satu peran Bank Indonesia dalam membangun smart city. Selain sebagai sumber data perekonomian yang dapat digunakan oleh pengambil keputusan didaerah untuk mengembangkan daerahnya.”

Deg. Lutut Didit mendadak lemas. Keringat dingin kembali mengembun bukan hanya di dahinya, tapi di seluruh tubuhnya. Darahnya tiba-tiba berhenti. Mendadak Didit merasa tidak betah berada didunia dan ingin pergi dari dunia ini entah kemana. Didit sadar ada sesuatu yang salah.
“Kalian tahu kenapa saya panggil kalian kesini?”
“Ta…Ta…Ta…Tau pak.”
“Bodoh banget gue, jawaban gue bener-bener sama sama jawaban temen kiri gue.” Didit menyesali jawaban ujiannya yang memang ‘plek’ sama dengan jawaban teman kirinya.
Dia ga sadar kalau dosen ngasih soal ‘Lalu tuliskan juga peran perusahaan tempat kalian magang semester kemarin dalam mendukung smart city’. Temen kiri gue kan memang magang di Bank Indonesia. Nah gue magang di pabrik kerupuk. Apa hubungannya?
“Coba kalian jelaskan kembali ke saya terkait smart city?” Tantang dosen.
Mati gue, udahlah gue lanjut tidur aja.
***

Leave a Comment