[CERPEN] Antara Euis dan Smart City

euis dan smart city“Ahhhhh…” Udara malam Kota Bandung yang dingin menyelimuti tubuhku yang mungil.

Kutarik tali kekang gas kuda besiku agar dia mau berlari ditengah ‘Tanjakan Emen’ yang terkenal itu.

Ditengah perjalanan, motorku seolah berbisik kepadaku. “Bang, aku haus”.

Kuajak Siti menepi ke sebuah tempat yang didominasi warna merah dengan tulisan ‘pasti pas’ dan sebuah kubus yang menunjukkan jempolnya.

“Silakan Siti kamu minum dulu. Nanti aku yang bayar.” Ujarku dalam hati.

“Dimulai dari angka nol ya…”

Setelah Siti puas melepaskan dahaganya, aku bayar minuman Siti menggunakan kartu debit salah satu bank pemerintah.

Akupun melanjutkan perjalanan

***

Asal kalian tahu, malam itu aku habis ngapel dengan Euis. Gadis cantik putri paman petani dari Subang.

Bukannya sombong, tapi Euis memang gadis paling cantik yang pernah aku temui mulai aku TK hingga saat ini aku kuliah di salah satu universitas ternama di Kota Bandung.

Teman-temanku yang namanya Joyce, Catherine, Baby, Kimberly, semuanya kalah cantik dari Euis.

Nama yang sederhana, namun membuat hati para pria yang mengenalnya menjadi amburadul.

***

Siang itu aku iseng jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan elektronik terbesar di Kota Bandung yang terletak di Jalan Purnawarman.

Sesaat setelah aku masuk, aku melangkah ke escalator sebelah kiri hingga tiba di lantai 2, lantai khusus handphone. Nampak banyak pengunjung disana, entah hanya melihat-lihat, mau membeli, atau bahkan menjual handphonenya. Yang jelas banyak penjaga toko yang menawarkan diri untuk membeli handphone pengunjung dengan harga yang katanya cukup tinggi.

Berkeliling sedikit, aku ingat akan permintaan Euis yang katanya ingin handphone baru dengan logo apel dibelakangnya. Biar gaul kaya temen-temennya katanya.

Jujur aku tidak bisa menolak permintaan gadis secantik Euis.

Berkeliling sedikit, akhirnya menemukan sang apel bertengger diatas etalase salah satu toko.

Tapi dompet lagi bener-bener tipis. Untunglah ada kartu kredit salah satu bank swasta lagi nongkrong di dompetku. Kebetulan lagi ada promo cicilan 0% selama 12 bulan untuk pembelian produk tersebut. Langsung saja aku gesek kartu tersebut.

“Euis pasti seneng pisan.” Ujarku dalam hati.

***

Kunaiki motor matik salah satu penyedia layanan ojek online dengan warna dominan hijau menyusuri Jalan Aceh, Jalan Supratman, Jalan Jakarta, hingga tiba di rumahku di daerah Antapani. Lalu kubayar dengan saldo yang sebelumnya sudah aku deposit kan di penyedia layanan ojek online tersebut.

Namun ada fenomena yang menarik perhatianku saat melewati pasar Kiaracondong. Ada sebuah truk yang mengangkut banyak sekali bawang merah terparkir di depan pasar. Banyak ibu-ibu yang mengantri di belakang truk untuk mendapatkan bawang merah dengan harga yang cenderung lebih murah dibandingkan di tempat lain termasuk di pasar itu sendiri. Tapi hal ini tidak banyak menyita perhatianku. Pikiranku tetap tertuju pada Euis, Euis, dan Euis.

***

Saat tiba dirumah, kuambil handphone dan kubuka aplikasi salah satu website belanja online. Website belanja online dengan warna dominan hijau yang mempertemukan banyak penjual di seluruh penjuru Indonesia dengan pembeli yang juga berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Berniat untuk membeli sebuah jaket baru karena jaket yang lama sudah sobek, akhirnya aku membeli sebuah helm yang coraknya mirip dengan salah satu pembalap MotoGP dari grup Honda. Berbeda jauh dari niat memang.

Lagi-lagi aku bayar dengan saldo yang sudah aku depositkan sebelumnya di layanan belanja online tersebut.

***

Hari ini aku berniat mengajak Euis ke Cipanas Garut. Karena perjalanan cukup jauh, aku memutuskan untuk menggunakan mobil. Kupacu mobil LCGC yang kumiliki melewati gerbang tol Pasteur. Kugunakan uang elektronik milik salah satu bank pemerintah di gerbang tol Pasteur agar bisa menikmati GTO di gerbang tol Cileunyi.

Banyak keuntungan menggunakan uang elektronik dalam membayar tol menurutku. Disamping tidak repot dengan kembalian yang biasanya dalam bentuk receh dan hilang entah kemana, antrian di GTO juga cenderung lebih pendek karena proses pembayaran dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Alasan-alasan itulah yang membuatku makin nyaman menggunakan uang elektronik dalam transaksi sehari-hari.

Sesampainya di Garut, kuparkirkan mobil mungil itu di salah satu pemandian air panas di kota intan yang terkenal dengan dodol, domba, dan delmannya.

Pembayaran parker lagi-lagi menggunakan uang elektronik. Nyamannya.

***

Hari ini kampusku mengadakan kunjungan ke Bank Indonesia di Bandung yang terletak di Jalan Braga dan berseberangan dengan Kantor Walikota Bandung. Kunjungan ke beberapa institusi dan perusahaan memang sudah menjadi agenda rutin dan program unggulan fakultas yang aku ambil. Sebuah pengalaman baru. Berkunjung ke Bank Sentral Republik Indonesia. Tidak bisa membayangkan, hanya bisa menahan diri untuk bersabar hingga tiba di Bank Indonesia.

Disana kami dijelaskan mengenai smart city yang memang saat ini sedang menjadi topic hangat di beberapa kota di Indonesia.

Konsep smart city sebenarnya mengintegrasikan semua data informasi yang ada sehingga bisa membantu kepala daerah dalam mengambil keputusan.

Narasumber di Bank Indonesia menjelaskan bahwa peran Bank Indonesia dalam mendukung smart city salah satunya adalah di bidang system pembayaran. Pengawasan instrument system pembayaran seperti kartu kredit, kartu debit, dan uang elektronik ada di Bank Indonesia. Bahkan Bank Indonesia saat ini juga sedang mengkaji terkait financial technology. Topic yang sedang hangat juga di beberapa Negara. Adalah sebuah industry yang cenderung baru di Indonesia yang bertujuan untuk membuat masyarakat lebih mudah mengakses produk-produk keuangan, mempermudah transaksi dan juga meningkatkan literasi keuangan dengan memanfaatkan teknologi (http://www.finansialku.com/apa-itu-industri-financial-technology-fintech-indonesia/). Salah satu contoh perusahaan financial technology adalah bisnis online baik itu e-commerce atau penyedia layanan transportasi online.

***

Smart city ternyata menarik untuk dipelajari. Jadi, kegiatanku sehari-hari sudah menggambarkan penduduk smart city. Mulai dari membayar minuman Siti menggunakan kartu debit, nyicil elektronik menggunakan kartu kredit, bayar transportasi dan belanja online menggunakan saldo yang merupakan salah satu fintech, serta pembayaran tol dan parkir menggunakan uang elektronik.

Semua data yang didapatkan dari transaksi diatas dapat diintegrasikan dengan data-data perekonomian lainnya sehingga dapat membantu pejabat daerah untuk mengambil keputusan. Salah satunya dengan mendatangkan truk bawang merah di pasar yang menjual bawang merah kepada ibu-ibu dengan harga super murah.

***

Lalu bagaimana dengan Euis? Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Hanya aku yang boleh memikirkan dan membayangkannya.

***

Leave a Comment