[BOOK REVIEWS] Rantau 1 Muara

Judul Buku : Rantau 1 Muara

Pengarang : A. Fuadi

Penerbit : Gramedia

Tebal : 401 halaman

Cetakan : Ketujuh, Februari 2014

Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung.

Man saara ala darbi washala. Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan.

Lengkap sudah ketiga mantra Alif Fikri di buku ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara ini.

Buku ini menceritakan Alif setelah lulus kuliah dan masih menjadi penulis beberapa koran di Bandung. Saat itu tahun 1998, muncul krismon, Alif juga tidak terhindar dari dampak krismon ini. Koran-koran tempatnya menulis mulai mengurangi halaman koran dan berdampak pada berkurang juga tulisan Alif yang dimuat dikoran tersebut. Perlahan-lahan penghasilan Alif di Bandung terus terkikis.

Tidak mau tinggal diam dengan keadaannya yang tidak berpenghasilan, Alif mencoba melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan sampai akhirnya ia diterima di salah satu majalah ternama di Jakarta sebagai wartawan. Waktu demi waktu Alif menjalani hari-harinya sebagai wartawan derap, majalah tempatnya bekerja. Ia pun sempat menjadi doktor di kantornya, “mondok di kantor”, mulai dari ruang arsip sampai musholla.

Suatu saat ada seorang wartawan baru. Wanita, cantik, ceria. Wanita ini sempat mencuri perhatian Alif saat pertama melihatnya. Namanya Dinara.

Cukup lama Alif satu kantor dengan Dinara. Rupanya mereka saling nyambung. Kayanya pembaca udah bisa nebak deh bahwa ada sedikit percikan-percikan antara Alif dan Dinara. Alif juga nggak lupa sama cita-citanya untuk nerusin sekolah ke luar. Dia terus ngirim aplikasi buat beasiswa S2 di luar negeri. Akhirnya dapet juga, di GWU, George Washington University.

Tapi sebelum berangkat, ada sesuatu yang mengganjal. Beberapa hari ini Dinara tampak berbeda. Tidak seceria yang dulu. Ngobrol pun hanya seperlunya. Tampak menjauh dari Alif. Ada apa gerangan. Alif belum bisa menemukan jawabannya sampai sesaat sebelum dia pergi.

Di pintu keberangkatan, sesaat sebelum pergi, Alif menerima sepotong kertas dari Dinara yang ikut mengantar bersama dengan teman-teman kantornya. Isinya, “Call me”. Hanya itu. Apa maksud wanita ini, Alif masih belum bisa menebak maksud wanita.

Sesampainya di Amerika, Alif tinggal di rumah seseorang asal Indonesia juga. Hubungan dengan Dinara? Lanjut dong. Alif masih rutin menghubungi Dinara. Hubungi terus hubungi terus hubungi terus. Akhirnya kesabaran Alif sudah habis untuk menunggu pendamping hidupnya. Memberanikan diri, Alif menyampaikan isi hatinya kepada Dinara. Tidak perlu waktu lama untuk Alif menunggu jawaban dari Dinara. Rupanya Dinara pun sudah menaruh hati pada Alif sejak Alif masih di Indonesia. Mereka berdua memutuskan untuk segera melanjut ke level berikutnya, pernikahan.

Tapi tunggu, mereka berdua sudah setuju. Sebagai orang yang beradat, restu orang tua tentu harus dikantongi juga. Memberanikan hati sekali lagi, Alif menyampaikan maksudnya kepada orang tua Dinara. Tapi ayah Dinara tidak menyetujui begitu saja. Dia mengatakan bahwa akan lebih baik jika mereka menikah setelah Alif menyelesaikan studi S2 nya. Nggak tau sudah kebelet atau bagaimana, Alif tidak menyerah begitu saja. Dibantu Dinara dan ibunya, Alif tetap berusaha mendekati ayah Dinara mulai dari memberikan hadiah kesukaannya sampai menyampaikan selamat ulang tahun.

Singkat cerita, akhirnya Alif mengantongi izin dari ayah Dinara untuk menikahi anak gadisnya. Rupanya pendekatannya ke ayah Dinara berhasil meskipun dilakukan dari beribu-ribu kilometer jauhnya.

Dinara ikut suaminya merantau ke Amerika. Sempat kesal juga Dinara karena hanya mengurusi urusan rumah tangga. Tapi hanya itu yang bisa dilakukan Dinara karena visa untuk bekerja baru keluar setelah 4 bulan. Setelah visa bekerja Dinara keluar, bukan main senangnya Dinara. Awalnya ia bekerja di sebuah toko buku. Setelah itu menjadi wartawan di salah satu kantor berita di Amerika. Alif belum bisa bekerja di kantor beritu tersebut karena masih menjalani pendidikannya.

Setelah menyelesaikan studinya, akhirnya Alif bekerja di tempat yang sama dengan istrinya. Wartawan juga. Mereka menjadi tim yang hebat. Mereka juga menjadi andalan kantor berita tempat mereka bekerja, ABN.

Hidup nyaman, penghasilan cukup besar, kehidupan cerah, tapi itu semua tidak bisa membawa kebahagiaan mutlak bagi Dinara. Rupanya Dinara kangen pulang. Tapi tidak dengan Alif. Dia masih menikmati hidup di negeri orang dengan kenyamanan yang dia dapat. Beberapa kali Dinara membujuk Alif tapi Alif tetap keukeuh.

Obrolan teman-temannya membuat Alif tersadar mengenai maksud ibunya selalu menanyakan kapan libur. Selama ini ibunya selalu menanyakan kapan libur. Tapi tidak secara eksplisit mengatakan kapan pulang. Rupanya pertanyaan itu secara implisit menanyakan kepada Alif kapan dia pulang.

Setelah dipikirkan dan dipertimbangkan, akhirnya Alif dan Dinara memutuskan. Mereka memutuskan untuk kembali ke muara. Muara diatas muara. 1 muara. Tanah air Indonesia.

Leave a Comment