[BOOK REVIEWS] – Finding Mino

Judul Buku : Finding Mino

Pengarang : Didi Wahyudi

Penerbit : Oase Mata Air Makna

Tebal : 304 halaman

Cetakan : Pertama, Februari 2010

Novel ini menceritakan seorang pemuda asal Solo yang tinggal di Bandung bernama Mino. Mino bekerja sebagai seorang wartawan di salah satu koran. Mino adalah seorang pemuda yang soleh. Tentu saja ada peran wanita di novel ini. Banyak malah. Padahal Mino termasuk orang yang nggak mau pacaran. Tapi prinsipnya banyak diuji dengan berdatangannya wanita-wanita yang mendekati sempurna di sekeliling Mino.

Sebenarnya bingung mau nulis rangkuman dari mana. Karena kayanya banyak alur cerita di dalam satu novel. Tapi ini yang menurut saya bedanya novel ini dengan novel lainnya. Ada banyak alur cerita dan inti di dalam satu novel.

Dimulai dari wanita pertama, Nora Naura. Anak SMA yang sekolah di SMA di Bandung. Kalau saya ga salah tebak sih mungkin SMAN 3 Bandung. Kedua orang tuanya adalah seorang dokter. Dialah yang menyebabkan Mino diangkat menjadi pegawai tetap di kantor koran tersebut. Gara-gara artikelnya yang kontroversial yang disarankan oleh Nora.

Sekarang kita lanjut ke alur cerita yang kedua. Dikantor Mino punya seorang teman perempuan yang katanya galak. Istilah temen-temennya suka gigit. Namanya Mbak Gita. Terakhir diketahui penyebab tidak enaknya dia bergaul dikantor adalah karena urusan keluarga. Dia sering berantem sama suaminya. Setelah diselidiki, rupanya penyebab bergolaknya rumah tangga Mbak Gita adalah karena dulu dia kehilangan anaknya pas mau ngelahirin. Waktu dulu dia mau ngelahirin di sebuah rumah sakit. Keadaannya katanya gawat. Mbak Gita minta untuk dirujuk kerumah sakit lain yang lebih terkenal. Tapi suaminya menolak dengan alasan fasilitas dan dokter dirumah sakit yang sekarang juga sudah sangat bagus. Tapi takdir berkata lain. Mbak Gita dan suaminya kehilangan anaknya. Sejak itulah Mbak Gita selalu kesal terhadap suaminya dan dokter.

Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata dokter yang dulu membantu proses lahiran Mbak Gita adalah mamahnya Nora yang bernama dokter Ana. Mino berusaha untuk nemuin dokter Ana sama Mbak Gita. Mino dibantu sama temennya Mbak Gita bernama Vira. Inilah wanita kedua.

Wanita kedua yang ada di kehidupan Mino ini bernama Vira. Dia temennya Mbak Gita. Dia yang membantu Mino mempertemukan dokter Ana sama Mbak Gita. Tapi itu semua nggak ngerubah sikap Mbak Gita sama dokter. Tetep kesel. Akhirnya ada cara lain. Nora, anak dokter Ana meyakinkan Mino untuk bisa mempertemukan dia sama Mbak Gita. Entah apa yang mau diomongin. Ternyata diluar dugaan, Mbak Gita luluh sama Nora. Gimana caranya?

Singkat cerita, diketahui ternyata Nora itu bukan anak kandungnya dokter Ana. Dia adalah anak seorang yang tidak mampu dan dititipkan ke dokter Ana. Tujuan Nora nyeritain cerita itu adalah biar Mbak Gita tau betapa baiknya dokter Ana. Dia tidak ada maksud untuk menolak kemauan Mbak Gita dirujuk ke rumah sakit lain. Akhirnya luluh lah dia.

Terus gimana cerita tentang Nora yang tahu kalau dia bukan anak kandung dokter Ana? Awalnya Nora nggak mau terima. Tapi karena gaul sama Mino, terus dicermahin, akhirnya Nora bisa terima itu semua dan tetap sayang pada kedua orang tuanya sekarang. Karena sering ngobrol, Nora suka sama Mino.

Lalu gimana dengan Vira temennya Mbak Gita? Diam-diam Mino masih menyimpan perasaan juga sama Vira. Jadi sekarang udah ada dua wanita di sekelilingnya yang suka sama Mino. Pertama Nora dan yang kedua Vira. Makin seru aja nih.

Mino itu punya adik di Solo bernama Bagas. Dia masih SMP sekarang. Dia pengen ngelanjutin SMA di Bandung katanya biar bisa bersaing lebih ketat jadi kualitas diri juga bisa berkembang dengan maksimal. Mino sangat sayang sama Bagas. Orang tuanya punya dua anak laki-laki yaitu Mino dan Bagas.

Suatu saat, Mino diminta menjadi ketua panitia untuk wisuda anak-anak TPA di masjid deket kosannya. Di acara itulah dia ketemu sama wanita ketiga. Namanya Yanti. Diam-diam juga Yanti sudah memperhatikan Mino sejak lama. Nampaknya Yanti juga kesemsem sama Mino. Sekarang Yantinya yang agresif. Dia yang nembak duluan. Tapi Mino tetep teguh sama prinsipnya. Dia ga mau pacaran.

Sekarang ada tiga perempuan. Nora, Vira, dan Yanti. Makin seru lagi.

Sekarang cerita Mino di kantor. Mino punya atasan namanya Kang Cepy. Punya temen juga namanya Novi. Tentu saja banyak juga temen lainnya. Nggak cuma Kang Cepy sama Novi. Novi itu orangnya periang, gigih, dan supel. Suatu saat Novi ga masuk kantor lama. Di saat yang sama Kang Cepy juga selalu ngajak Mino ngobrol serius empat mata. Tapi kebetulan setiap Kang Cepy mau ngajak ngobrol serius, Mino selalu ada acara.

Setelah beberapa lama, Mino akhirnya tau kalau Kang Cepy itu pamannya Novi. Akhirnya penasaran lah Mino karena Novi udah sekitar sebulan ga masuk kantor. Dia langsung nanya Kang Cepy.

“Gimana kang keadaan Novi? Ko ga pernah masuk kantor?”

Ternyata itu yang mau Kang Cepy omongin dari dulu ke Mino. Novi itu kena sirosis hati dan diprediksi umurnya tinggal tiga tahun lagi. Dan Mino diminta Kang Cepy buat ngelamar Novi katanya biar semangatnya kembali lagi karena itulah yang bisa memperpanjang umur Novi.

Ada lagi satu perempuan nambah. Nora, Vira, Yanti, dan Novi. Empat wanita mengelilingi Mino.

Mino itu dulu punya temen kuliah namanya Deni. Dia punya perusahaan tabloid juga di Jakarta. Sampai sekarang Deni masih menjalin silaturahmi sama Mino. Parahnya lagi, Deni suka sama Novi dan berniat ngelamar Novi dalam waktu dekat. Serba salah deh Mino. Mino awalnya mau ngasih Novi ke Deni, tapi salah satu syarat dari Deni adalah sehat jasmani dan Rohani. Novi jelas tidak memenuhi itu.

Mino masih bimbang juga buat ngelamar Novi. Dia akhirnya pulang ke Solo buat diskusi sama keluarganya sekalian jemput Bagas yang mau ke Bandung. Sudah diduga, orang tuanya nanyain terus kapan Mino mau nikah. Soalnya kalau belum, ada anak gadis di Solo juga yang mau dijodohin sama Mino. Sekarang lima wanita. Komplit sudah.

Setelah konsultasi sama orang tuanya dan menceritakan tentang keadaan Novi, orang tuanya tidak keberatan Mino menikahi Novi. Karena umur itu ga ada yang tau. Dan udah dipikir matang-matang memang Novi kayanya yang paling cocok dan paling pas dengan niat Mino menikah. Mino nikahin Novi bukan karena kasian sama Novi, tapi memang karena cinta dan karena Allah.

Setelah semuanya mantap, Mino kembali ke Bandung bareng Bagas. Semuanya dipersiapkan, mulai dari undangan sampai catering. Mino juga bikin buku buat hadiah istrinya saat hari pernikahan. Semuanya mantap. Begitu juga hati Mino. Hatinya sudah mantap sama Novi. Perlahan dia lupakan semua wanita yang selama ini ada di sekelilingnya. Nora, Vira, Yanti, gadis Solo. Lupakan semua. Sekarang mantepin sama Novi.

Akhirnya tiba hari pernikahan. Sampel buku pertama Mino sudah siap dan bisa diambil di penerbit. Bagas menawarkan diri buat ngambil buku itu. Tapi sampai acara mau selesai ko Bagas belum pulang juga?

Musibah menimpa keluarga mereka. Dihari yang paling berbahagia buat keluarga Mino, musibah juga menimpa keluarga mereka. Bagas mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Tapi Mino belum kuasa buat ngasiih tau ibu bapaknya mengenai keadaan Bagas.

Ternyata cerita habis disini. Mengenai cara menyampaikan kejadian yang menimpa Bagas kepada bapak ibu, biarlah itu menjadi urusan Mino.

Pada dasarnya novel ini seru, rame, dan bisa menggelitik karena banyak kejadian lucu juga. Banyak pesan moral juga. Banyak kejadian sedih juga. Tentang agama juga ada. Seperti sudah saya ceritakan diawal, banyak alur cerita dalam satu novel. Sebenernya itu bikin rame, tapi menurut saya setiap alur cerita kurang mencapai klimaks pada akhirnya. Klimaks hanya tercapai satu kali hanya di akhir novel. Tapi pada dasarnya seru. Novel dengan bahasa dan cerita yang ringan menemani di waktu luang.

Cuma ga tau hubungannya dengan judul Finding Mino itu darimana. Orang Minonya juga ga ilang?

Nilai : 7/10

Leave a Comment